Selain itu, Perpustakaan Nasional RI kini menjadi perpustakaan yang berskala nasional dalam arti yang sesungguhnya, yaitu sebuah lembaga yang tidak hanya melayani anggota suatu perkumpulan ilmu pengetahuan tertentu, tetapi juga melayani anggota masyarakat dari semua lapisan dan golongan. Walau terbuka untuk umum, koleksinya bersifat tertutup dan tidak dipinjamkan untuk dibawa pulang. Layanan itu tidak terbatas hanya pada layanan untuk upaya pengembangan ilmu pengetahuan saja, melainkan pula dalam memenuhi kebutuhan bahan pustaka, khususnya bidang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, guna mencerdaskan kehidupan bangsa.
Perpustakaan yang paling awal berdiri adalah perpustakaan gereja yang didirikan
pada masa VOC (Vereenigde OostJurnal Indische Compaqnie) di Batavia (kini Jakarta) yang telah dibangun sejak tahun
1624. Akan tetapi karena beberapa kesulitan, perpustakaan tersebut baru
diresmikan pada 27 April 1643 dengan penunjukan seorang pustakawan bernama
Dominus Abraham Fierenius. Pada masa ini, perpustakaan tidak hanya
diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja, namun juga dapat dinikmati oleh
masyarakat umum. Bahkan perpustakaan meminjamkan buku untuk perawat rumah sakit
Batavia hingga akhirnya peminjaman buku diperluas sampai ke Semarang dan Juana,
Jawa Tengah. Dengan demikian pada abad ke-17, Indonesia telah mengenal
perluasan jasa perpustakaan yang kini layanan tersebut dikenal dengan pinjam-antar
perpustakaan atau interlibrary loan).
Pada 25 April 1778 didirikan perpustakaan khusus di Batavia,
yaitu perpustakaan lembaga Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW) yang
diprakarsai oleh ketua Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda), Mr. J. C. M.
Rademaker. Selain memprakarsai berdirinya perpustakaan lembaga BGKW, ia juga
memprakarsai pengumpulan buku dan manuskrip untuk koleksi perpustakaan.
Perpustakaan ini kemudian pada tahun 1846 mengeluarkan katalog buku yang
pertama di Indonesia dengan judul Bibliotecae Artiumcientiaerumquae Batavia Florest Catalogue
Systematicus yang
merupakan hasil suntingan dari P. Bleeker.
Edisi kedua katalog tersebut terbit pada tahun 1848 dalam versi bahasa Belanda. Perpustakaan lembaga BGKW aktif dalam pertukaran bahan perpustakaan. Sebagai bahan pertukaran perpustakaan ini menggunakan penerbitan Tijdschrift voor Indische Taal-, Land en Volkenkunde, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschapn van Kunsten en Wetenschappen, Jaarboek, serta Werken buiten de Serie. Karena perpustakaan tersebut memiliki prestasi yang luar biasa dalam meningkatkan ilmu dan kebudayaan, kemudian namanya ditambah menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.
Pada tahun 1950, nama tersebut berubah menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Selanjutnya, Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia dan namanya pun diubah menjadi Museum Pusat pada tahun 1962. Koleksi perpustakaannya menjadi bagian dari Museum Pusat sehingga dikenal dengan Perpustakaan Museum Pusat. Kemudian nama Museum Pusat berubah lagi menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan nama Perpustakaan Museum Nasional. Perpustakaan Museum Nasional tersebut dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan pada tahun 1980. Pada tahun 1989, terjadi perubahan kembali. Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Perpustakaan_Nasional_Republik_Indonesia & http://manunggal.undip.ac.id/sejarah-perpustakaan-nasional-republik-indonesia/)
